Targetkan 60 Ribu Kopdes Merah Putih, Ekonomi Desa Bangkit di Era Prabowo

Oleh: Nanda Putri Pasaribu )*

Langkah Presiden Prabowo Subianto menempatkan koperasi sebagai jantung penggerak ekonomi desa kembali ditegaskan di awal tahun ini, sebuah sinyal kuat bahwa arah pembangunan nasional kini benar-benar berpihak pada ekonomi rakyat, bukan sekadar jargon, melainkan strategi nyata yang mulai terasa denyutnya hingga ke desa-desa.

Presiden Prabowo Subianto, menegaskan bahwa pemerintah menargetkan sedikitnya 25 ribu Koperasi Desa Merah Putih sudah aktif beroperasi pada Maret mendatang. Pernyataan ini bukan sekadar angka administratif, melainkan cerminan ambisi besar negara untuk mengubah wajah ekonomi desa dari yang selama ini pasif menjadi pusat aktivitas ekonomi yang produktif. Dari rencana besar membangun 81 ribu koperasi di seluruh Indonesia, Prabowo meyakini bahwa pada periode Maret hingga April, seperempat lebih dari target tersebut sudah bisa berjalan, sebuah lompatan besar dibandingkan berbagai program koperasi di masa lalu yang kerap tersendat.

Optimisme itu tidak berhenti di kuartal pertama. Prabowo Subianto juga menyampaikan bahwa pada akhir Desember 2026, pemerintah menargetkan minimal 60 ribu Kopdes Merah Putih telah beroperasi. Target ini memberi pesan kuat bahwa koperasi bukan lagi pelengkap, tetapi diproyeksikan sebagai tulang punggung ekonomi nasional dari bawah. Ketika koperasi desa hidup, rantai distribusi pangan, logistik lokal, hingga pembiayaan mikro akan bertumpu pada lembaga yang dimiliki dan dikelola masyarakat sendiri. Inilah yang oleh Prabowo disebut sebagai kebangkitan ekonomi di semua bidang, karena desa tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek pembangunan.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengungkapkan bahwa percepatan pembangunan fisik Kopdes Merah Putih menjadi salah satu fokus utama. Hingga kini, lebih dari 44 ribu titik lahan telah terpetakan sebagai lokasi pembangunan gerai fisik, dan sudah lebih dari 13 ribu titik gerai yang berhasil dibangun. Angka ini menunjukkan bahwa program tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi telah bergerak nyata di lapangan. Ferry Juliantono menilai bahwa infrastruktur fisik sangat penting karena koperasi butuh ruang nyata untuk melayani anggota, menyimpan produk, dan menjalankan transaksi ekonomi.

Untuk mengejar target ambisius tersebut, Ferry Juliantono menyatakan akan menggandeng lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Agraria, Badan Pengaturan BUMN, serta Kementerian Dalam Negeri. Sinergi ini menjadi kunci agar persoalan lahan, perizinan, hingga dukungan pemerintah daerah bisa diselesaikan dengan cepat. Pendekatan lintas sektor ini menandai perubahan pola kerja birokrasi yang selama ini dikenal lambat dan terfragmentasi, menjadi lebih terkoordinasi demi satu tujuan bersama.

Data dari command center Kementerian Koperasi memperlihatkan skala program yang luar biasa besar. Tercatat lebih dari 83 ribu Kopdes Merah Putih telah berbadan hukum, dengan jumlah anggota mencapai 1,65 juta orang dan pengurus sekitar 690 ribu orang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa koperasi bukan proyek elitis, tetapi benar-benar melibatkan masyarakat luas. Setiap koperasi adalah ruang partisipasi warga desa dalam mengelola ekonomi mereka sendiri.

Ferry Juliantono juga menyatakan optimisme bahwa hingga April 2026, sebanyak 26 ribu gerai fisik Kopdes Merah Putih akan berdiri. Untuk memastikan koperasi tidak hanya berdiri secara fisik, Kemenkop terus melakukan pelatihan sumber daya manusia serta penyempurnaan sistem digitalisasi koperasi. Digitalisasi ini penting agar koperasi bisa transparan, efisien, dan akuntabel, sehingga kepercayaan anggota terjaga dan potensi penyalahgunaan dapat ditekan.

Lebih jauh, Kementerian Koperasi juga mendorong sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga guna memperkuat swasembada pangan. Pengembangan usaha koperasi dari hulu hingga hilir, pemanfaatan Hub Kopdes Merah Putih, serta penerapan teknologi berbasis Internet of Things menjadi bagian dari strategi agar koperasi mampu mengelola rantai pasok pangan secara modern. Dengan cara ini, nilai tambah tidak lagi lari ke tengkulak atau perusahaan besar, tetapi kembali ke petani, koperasi, dan masyarakat desa.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pembangunan fisik gerai Kopdes Merah Putih akan mendapat dukungan optimal dari PT Agrinas Pangan dan TNI. Keterlibatan dua institusi ini memberi bobot serius pada program, karena menyatukan kekuatan korporasi negara dan aparat negara untuk memastikan infrastruktur pangan desa berjalan lancar. Zulkifli Hasan juga melihat Kopdes Merah Putih sebagai penggerak ekonomi desa, khususnya dalam pengelolaan unit usaha strategis seperti beras, komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Dalam satu tahun terakhir, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto juga mencatat berbagai keberhasilan yang memperkuat landasan program koperasi ini, mulai dari stabilisasi harga pangan, peningkatan serapan hasil pertanian petani, hingga perbaikan tata kelola Dana Desa yang lebih transparan dan terarah, sehingga desa kini memiliki ruang fiskal yang lebih kuat untuk mengembangkan usaha produktif seperti Kopdes Merah Putih.

Melihat keseluruhan gambaran ini, target 60 ribu Kopdes Merah Putih bukan lagi sekadar angka ambisius, melainkan agenda transformasi ekonomi desa yang sedang berjalan. Dengan dukungan kebijakan, infrastruktur, sumber daya manusia, dan sinergi lintas lembaga, koperasi desa berpotensi menjadi fondasi baru ekonomi nasional yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya akan diukur dari jumlah koperasi yang berdiri, tetapi dari seberapa jauh kesejahteraan benar-benar kembali ke tangan rakyat desa, dan di titik itulah ajakan bagi semua pihak untuk ikut mengawal dan memanfaatkan Kopdes Merah Putih menjadi semakin relevan sebagai jalan bersama menuju kemandirian ekonomi Indonesia.

)* Penulis Adalah Penggerak Komunitas – Pusat Pemberdayaan Masyarakat Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *